Kapuas, (18/09) Seluruh guru dan staff SMPN 3 Selat
mengikuti pelatihan Indonesia Digital School secara daring. Kegiatan ini
difasilitasi oleh INDISCH. Sebuah platform pembelajaran digital produk
Indonesia. Kegiatan dilaksanakan dari jam 09.00-11.00 WIB dan sesi 2 jam
13.00-15.00 WIB. Guru mengikuti kegiatan dari rumah masing-masing dan sebagian
di sekolah. Materi disampaikan oleh trainer dari INDISCH Bapak Abdur dan
Bapak Reza. Sesi pertama penjelasan tentang INDISCH beserta demo dan sesi 2
praktek.
INDISCH di buat awalnya karena adanya kebutuhan di
masyarakat akan akses terhadap pendidikan yang mudah dan murah, bahkan gratis.
Karena sebenarnya Indonesia ini memiliki sumber daya manusia yang unggul,
dibandingkan negara lain. Baik dari segi jumlah maupun kualitas, hal ini
dibuktikan dengan banyaknya siswa dan siswi Indonesia yang berprestasi dalam
berbagai ajang olimpiade, dengan mengalahkan perwakilan dari negara-negara lain
di Dunia.
Namun sayang akses terhadap pendidikan dan pembelajaran
tidak merata. Sehingga perlu sebuah terobosan, dimana semua orang memiliki
akses terhadap pendidikan dan pembelajaran yang mudah, murah bahkan gratis.
Bahkan tidak hanya mendapat kesempatan belajar yang lebih luas, tetapi juga
kesempatan mengajar yang terbuka bagi siapapun, baik pelajaran formal di
sekolah, maupun pelajaran informal yang bersikat vokasi, softskills, motivasi
maupun inspirasi yang dapat menggerakan Indonesia ke arah yang lebih baik di
masa yang akan datang.
Mengapa INDISCH dibuat?
INDISH dibuat sebagai sebuah Platform Media Sosial,
dimana setiap pembelajar dan pengajar bisa saling berinteraksi, berbagi video
pembelajaran. Saat ini ada dua sumber pembelajaran bagi siswa sekolah sampai
mahasiwa, bahkan masyarakan umum, yaitu:
- Kurikulum
yang dibuat oleh kementerian dan instansi terkait, yang harus diikuti
untuk menyelesaikan setiap jenjang pendidikan.
- Non
kurikulum, dimana semua orang mencari materi pembelajaran di Internet,
salah satunya adalah yang berbasis video sharing, youtube.
Aplikasi pembelajaran yang saat ini ada di pasaran,
cenderung mengkuti tahapan-tahapan yang ada dikurikulum, sehingga semua orang
diarahkan untuk mengikuti pola yang belum tentu mengikuti kebutuhan pasar.
Sedangkan Non kurikulum, biasanya searching di Internet tidak ramah anak.
Karena, sangat banyak sekali materi, terutama video di youtube yang bisa
diakses dengan bebas. Paling tidak terdapat 3 jenis video yang membahayakan,
yaitu:
- Video
terkait terorisme
- Video
obat-obatan terlarang
- Video
berhubungan dengan pornografi
Bahkan ratusan video yang berhubungan dengan
pornografi bisa diakses oleh siapapun dalam waktu kurang dari 3 menit.
Menyadari kebutuhan akan pembelajaran yang lebih
independen, tetapi juga lebih terjaga dari konten yang negatif, maka kami
menghadirkan INDISCH sebagai solusi pembelajaran yang berbasis media sosial.
Harapan untuk pendidikan di indonesia?
Sebuah negara maju, bukan lagi ditentukan oleh
seberapa banyak sumber daya alam yang dimiliki, tetapi sebera tangguh dan
kompetitif sumber daya manusianya. Oleh karena itu, Indonesia harus bisa
melihat 10 sampai 20 tahun ke depan, dengan mulai membenai sistem pendidikan yang
berbasis kebutuhan industri dan dunia usaha. Disamping itu,
penelitian-penelitian yang direalisasikan menjadi solusi bagi masyarakat dan
bisnis sangat diperlukan, sehingga tidak hanya berakhir sebagai jurnal ilmiah
yang menjadi persyaratan gelar akademis, atau kewajiban akademis mahasiswa dan
dosen di kampus-kampus.
Kami menghadirkan INDISCH, sebagai salah satu solusi
bersosial media yang produktif, karena bisa saling berbagi ilmu, dan juga
memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat pembelajar di Indonesia,
untuk bisa belajar dan mengajar di manapun.
Bagaimana posisi INDISCH di era digital sekarang?
Era digital ini ibarat dua sisi mata pisau. Kita bisa
memanfaatkan seluas-luasnya untuk kepentingan dan kemajuan bangsa, termasuk
generasi penerus bangsa. Tetapi di sisi lain bisa memberikan dampak yang
negatif, apabila tidak disertai dengan antisipasi terhadap ekses yang timbul
dari kecepatan internet dan keterbukaan informasi di era digital ini.
Kita lihat bagaimana China berani melarang youtube, facebook,
whatsapp, twitter dan menggantikannya dengan produk lokal di negara sendiri,
menunjukan bahwa pemerintah bisa melakukan intervensi terhadap akses informasi
yang tanpa batas. Oleh karena itu, jika kita belum bisa membuat teknologi yang
minimal menyamai platform untuk mengakses informasi yang bebas seperti
ditawarkan oleh media sosial seperti youtube, facebook, whatsapp, twitter dan
lainnya, maka minimal kita bisa membatasi aksesnya, dan memberikan ruang kepada
media sosial lokal dengan konten yang lebih selektif seperti INDISCH.
Harapan INDISCH sebagai solusi Pembelajaran?
Software atau aplikasi sejenis secara umum dibedakan
menjadi dua, yaitu:
- Aplikasi
pembelajaran satu arah, dimana kurikulum dan konten telah ditentukan
provider, dimana siswa dan peserta hanya bisa mengikuti alur yang sudah
ditentukan
- Video
content aggregator yang memperbolehkan upload dan sharing video dengan
konten yang bebas, yang menyebagkan siswa bisa tersesat di dalamnya,
apalagi begitu mudahnya mengakses materi video yang tidak sesuai dengan
tujuan pendidikan
INDISCH adalah gabungan dari media sosial, bisa
membuat dan mengkonsumsi konten, sekaligus sharing dengan siapapun yang
terkoneksi, tetapi dengan konten video yang lebih selektif. Dengan INDISCH,
maka peran guru dan dosen tidak tergantikan, karena mereka menjadi subject
dalam pembelajaran, tidak digantikan oleh pemateri yang disediakan oleh
Provider aplikasi pendidikan.
Hal yang paling penting dari aplikasi INDISCH adalah,
100% gratis, dimana setiap orang bisa membuat konten video pembelajaran sebagai
publisher, membagikannya kepada para pembelajar atau subscriber dengan akses
Private, Subscribe maupun Public. Sehingga semua orang memiliki kesempatan
belajar dan mengajar yang sama. Oleh karena itu, moto kami adalah Indonesia
Belajar – Indonesia Mengajar.